Header Ads

Analisa Sektor Finance Industri Asuransi Indonesia







Analisa Sektor Finance Industri Asuransi Indonesia


Tanggal penulisan : 24 April 2018

Tanpa terasa Kamus AFSI yang membahas seluruh emiten telah berhasil menyelesaikan semua emiten yang ada kecuali yang baru IPO. Dalam hati penulis sangat senang dapat berbagi kepada semua pembaca selama ini. Ketika menulis dan menganalisa saham selalu penulis memisahkan 2 sektor antara sektor keuangan (Finance) dan sektor non finance.

Hal ini dikarenakan jenis bisnis yang berbeda yang tidak bisa disamakan. Sektor non finance umumnya jualan barang dan jasa sehingga bisa dinilai berapa penjualan dan berapa biaya pokok pendapatannya. Hal tersebut sering tidak berlaku untuk perusahaan sektor keuangan (Finance).

Sektor Finance sendiri penulis menyadari harus dipisahkan menjadi 5 kategori antara lain :
1. Perbankan 
4. Perusahaan Investasi
5. Perusahaan efek / Sekuritas 

Nah setelah menulis dengan lengkap kamus penulis menyadari sektor finansial terdapat kelemahan yang besar dari penilaian RoA. Awalnya karena emiten banyak perbankan maka saya menilai perusahaan perbankan meminjam uang dari pihak ketiga melalui Giro, Tabungan dan Deposito.

Lalu uang tersebut dipinjamkan ke pihak lain untuk usaha dan kinerja bank yang paling cocok adalah RoA. Karena yang dinilai adalah asset yang dia peroleh berapa dan hasil laba yang dia peroleh dari proses meminjam.

Lantas ketika berhadapan dengan perusahaan sektor keuangan industri yang berbeda seperti Pembiayaan, Asuransi, Perusahaan Investasi dan Perusahaan Efek. Penilaian RoA menjadi lebih tinggi dari perbankan. Maka nilainya jadi banyak yang bagus karena kriteria patokannya masihlah sama yaitu RoA 1%. Maka dari itu penulis menilai tidak bijaksana rasanya bila ini dibiarkan harus ada analisa dari sektor masing2 berapa sih sebenarnya nilai yang pantas atau cocok dari sektor tersebut. Sehingga kali ini kita akan meneliti metode yang lebih cocok untuk perusahaan asuransi.

Apa sih bisnis asuransi? Bisnis asuransi adalah bisnis mendapat perlindungan finansial untuk jiwa, kesehatan, asset atau properti dari hal hal / sesuatu yang tidak diinginkan dengan mengalokasi sebagian dana yang disebut premi sebagai ganti perjanjian alokasi resiko dalam bentuk polis untuk jaminan perlindungan tersebut.

Dahulu bisnis asuransi sifatnya adalah berupa dana / biaya yang dikeluarkan untuk perjanjian hal yang dilindungi yang disebutkan. Dan premi / biaya tersebut dituangkan dalam perjanjian polis. Tetapi seiring dengan perkembangan waktu bisnis asuransi sudah lebih berkembang tidak hanya menjual asuransi tetapi juga manajemen keuangan dalam bentuk reksa dana ataupun asset manajemen. Sehingga perusahaan asuransi tidak hanya mendapatkan keuntungan dari penjualan polis asuransi saja tetapi juga dari mengelola dana pemegang polis. 

Sebenarnya bisnis asuransi sendiri dalam skala besar sudah pasti menguntungkan karena biaya asuransi sudah diatur oleh asosiasi yang berhubungan dengan biaya yang sudah diatur oleh jumlah claim yang terjadi baik oleh asuransi jiwa yang diatur oleh AAJI maupun asuransi kerugian. Sudah didata jumlah yang mengikuti asuransi dan jumlah claim. Sehingga biaya sudah diatur sedemikian rupa terdapat biaya yang sudah didapat dari data asosiasi tersebut ditambah keuntungan dan administrasi untuk perusahaan asuransi. 

Sehingga sebenarnya dalam skala besar bila perusahaan asuransi pintar mengatur efisiensi biaya maka perusahaan asuransi pasti untung dari keuntungan margin tersebut. Akan tetapi melalui perkembangan waktu ternyata mengelola asset pemegang polis dan asset perusahaan asuransi dapat jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan bisnis asuransi konvensional sehingga muncul lah banyak bisnis dalam mengelola portofolio pemegang polis dalam bentuk reksa dana.

Portofolio yang dikelola perusahaan asuransi bukan hanya punya pemegang polis tetapi juga asset perusahaan asuransi itu sendiri. Berarti sumber penghasilan perusahaan asuransi saat ini adalah dari 1. Premi pemegang polis / underwriting
2. Jasa keuangan mengelola portofolio investasi pemegang polis biasanya dalam Unit Reksa Dana
3. Maupun portofolio investasi perusahaan asuransi itu sendiri. 
4. Pendapatan lain dari asset perusahaan asuransi
5. Claim reasuransi


Sedangkan yang menjadi biaya
1. Claim polis oleh pemegang polis
2. Biaya premi reasuransi (Mengalokasikan resiko ke perusahaan asuransi lain)
3. Biaya umum administrasi kantor, underwriting dan komisi baik langsung & tidak langsung

Dari data diatas maka dapat disimpulkan bisnis asuransi sekarang tidak hanya mengenjot pasar penjualan asuransi saja tapi juga lomba mendapatkan jasa dalam pengelolaan asset maupun investasi baik untuk pemegang polis maupun untuk perusahaan asuransi tersebut. 

Maka bila kita kaji lebih dalam unsur kinerja asuransi berdasarkan 
Pendapatan premi underwriting dikurangi alokasi premi reasuransi ditambah hasil investasi dan pendapatan lainnya. = Total Pendapatan

Total biaya adalah biaya Claim premi dikurangi claim reasuransi ditambah biaya komisi dan beban umum dan administrasi. 
Semua pendapatan dikurangi biaya adalah Laba dari perusahaan asuransi.
Dalam hal ini pengukuran kinerja asuransi sangat tergantung pada laba perusahaan.
Tolok ukur Laba yang paling cocok dari asuransi terbagi menjadi beberapa bagian pada umumnya
PER, ROE, ROA -->  dikarenakan perusahaan asuransi wajib menyertakan jumlah dana yang diinvestasikan maka penulis lebih cenderung menggunakan 2 data saja yaitu PER dan Return dari Jumlah investasi perusahaan asuransi untuk melihat seberapa baiknya perusahaan asuransi tersebut mengelola portofolio investasi yang mereka miliki.



Mari kita analisa 2 kriteria tersebut pada perusahaan asuransi yang listing di bursa pada penutupan tgl 24 April 2018.


SahamLabaR/L Non InvestHasil InvestasiJlh InvestasiROI
ABDA 160,820 29,354  131,466  2,035,258 6.46 %
AHAP(41,422)(44,204)2782 35,344 7.87 %
AMAG123,190 27,708 95,482 1,420,716 6.72 %
ASBI13,421 (19,071)32,492 266,835 12.18 %
ASDM40,278 17,281 22,997 306,881 7.49 %
ASJT22,672 12,185 10,487 170,613 6.15 %
ASMI52,744 (27,123)79,867 533,518 14.97 %
ASRM60,924 13,347 47,577 399,258 11.92 %
JMAS(1,901)(5,544)3,643 83,084 4.38 %
LPGI91,874 (14,939)106,813 1,354,851 7.88 %
MREI161,076 73,235 87,841  1,810,175 4.85 %
MTWI(3,567)(19,156)15,589  150,231 10.38 %
PNIN 1,044,773 95,135  949,638  8,210,467 11.57 %
PNLF 1,457,567 746,972  710,595  6,734,117 10.55 %
VINS 8,815 (2,797) 11,612  198,509 5.85 %

Top 5 Saham yang paling pintar mengelola dana investasi adalah 
1. ASMI
2. ASBI 
3. ASRM
4. PNIN
5. PNLF


SahamHargaEPSPER
ABDA 7,625  259.00  29.44 
AHAP 190 (49.31)(3.85)
AMAG376 24.63 15.27 
ASBI330 39.00 8.46 
ASDM1,015 210.00 4.83 
ASJT346 38.00 9.11 
ASMI745 7.00 106.43 
ASRM2,500 284.00 8.80 
JMAS750 (1.90)(394.74)
LPGI4,000 612.00 6.54 
MREI4,900 404.00 12.13 
MTWI127 (2.77)(45.85)
PNIN 1,155  256.81 4.50 
PNLF 246  45.52 5.40 
VINS 135  6.07 22.24 


Top 5 Saham dengan PER terkecil adalah
1. PNIN
2. ASDM
3. PNLF
4. LPGI
5. ASBI

Hasil analisa sektor finance industri asuransi untuk negara Indonesia adalah
PER average yang positif dari 12 emiten adalah 19.43
PER yang baik adalah dibawah 10
PER yang sedang adalah 15

Sedangkan Average ROI adalah 8.61
Average ROI yang baik adalah diatas 10%
Average ROI sedang adalah 7%


Terima kasih,
Krisantus (Bozdiamond)

No comments